13 WNI Positif Terjangkit Influenza A H1N1 di Korea

Tiga belas WNI peserta World Choir Championship (WCC) 2009 positif terjangkit Influenza A H1N1 di Seoul, Korea Selatan setelah 3 hari berada di negeri ginseng untuk mengikuti perlombaan paduan suara tingkat dunia. Tanggal 7 Juli 2009 rombongan paduan suara Indonesia tiba di Korea Selatan guna mengikuti acara yang digelar sampai 17 Juli 2009 di Kota Changwon City, Korea Selatan.

Peserta WWC asal Indonesia berjumlah 336 orang terdiri 9 grup paduan suara dari 12 grup yang direncanakan hadir, yaitu Paduan Suara (PS) Interna Jog’s Voice Yogyakarta (32 orang); PSM Universitas Hasanuddin Makassar (32 orang); Bitung City Chorale (43 orang); Vocafista Angels (51 orang); PSM Universitas Negeri Manado (34 orang); Elfa Music School (83 orang); Gorontalo Inovasi Choir (34 orang); PS Timutiwa (32 orang); dan Riau Female Choir (25 orang).

Hal itu disampaikan Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) yang didampingi Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P, MARS, Dirjen P2PL Depkes saat jumpa pers di rumah dinasnya, Jl. Denpasar Jakarta, tanggal 12/7/2009. Menurut informasi yang diperoleh dari Koordinator Paduan Suara asal Indonesia pada 11/7/2009, dari 9 grup terdapat 283 orang dari 7 grup paduan suara yang sedang menjalani proses karantina di Inje University dan Masan University di Kota Masan. Sedangkan 83 orang sisanya dari grup Interna Jog’s Voice dan Vocalista Angels Yogyakarta dinyatakan bebas dari dugaan virus H1N1, ujar Dr. Siti Fadilah Supari. Berdasarkan hasil pemeriksaaan lebih lanjut di laboratorium Korean Centers for Disease Control and Prevention (KCDC), dari peserta yang menjalani proses karantina tersebut terdapat 13 orang positif influenza A H1N1 terdiri dari 10 orang dari Elfa Music School, 2 orang dari Gorontalo Inovasi Choir, dan 1 orang dari Riau Female Choir. Ketiga belas pasien positif H1N1 tersebut telah dipindahkan dari tempat penginapan ke rumah sakit khusus penderita H1N1 di sekitar Masan. Mereka akan menjalani karantina selama 5-7 hari. Menkes minta kepada keluarganya di tanah air untuk bersabar karena hal itu sudah menjadi ketentuan internasional. Setelah mereka dinyatakan negatif akan diperbolehkan pulang, ujar Menkes. Mereka yang menjalani proses karantina maupun yang sudah dinyatakan positif influenza A H1N1, kondisinya baik-baik saja. Hingga saat ini KBRI di Seoul masih terus melakukan kontak intensif dengan pihak penyelenggara untuk mengetahui perkembangan lebih lanjut, ujar dr. Siti Fadilah. Menkes berharap seluruh keluarga di tanah air tidak usah khawatir, karena mereka kondisinya baik-baik saja. Bahkan mereka masih bisa berlari-lari dan bernyanyi-nyanyi. Pemerintah Indonesia dalam hal ini Depkes, Deplu, KBRI terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Korea Selatan dan Kedubes Korea di Jakarta guna memantau perkembangan mereka. Menkes menambahkan, KBRI telah berkoordinasi dengan PT. Garuda Indonesia di Seoul untuk mengevakuasi 83 orang peserta yang telah dinyatakan bebas dari virus H1N1 tersebut. Menurut informasi dari General Manager Garuda Indonesia Seoul, PT Garuda Indonesia telah menyediakan pesawat khusus Boeing 747 untuk menerbangkan peserta tersebut ke Indonesia tanggal 12 Juli 2009 pk. 10.00 waktu setempat dan tiba di Denpasar jam 15.25 WITA. Menjawab pertanyaan wartawan, Menkes menegaskan bahwa saat ini di Indonesia sudah terdapat 64 kasus positif influenza A H1N1, terdiri dari 43 laki-laki dan 21 perempuan. Mereka adalah WNI maupun WNA tetapi sebagian besar tertular di luar negeri. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Dirilis dari: info@puskom.depkes.go.id

Di Indonesia Sudah Ada 64 Kasus Influenza H1N1

Di Indonesia sampai tanggal 12 Juli 2009 secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 atau flu babi mencapai 64 orang, terdiri dari 43 orang laki-laki dan 21 orang perempuan.

Tambahan kasus hari ini, sebanyak 12 orang ( 7 orang laki-laki dan 5 orang perempuan ), masing-masing 8 orang dirawat di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso (RSPI SS) Jakarta, 2 orang di RS Gatot Subroto Jakarta, dan masing-masing 1 orang di RS Sanglah Denpasar, Bali dan RS Hasan Sadikin Bandung.

Ke-12 kasus baru positif influenza A H1N1 tersebut adalah :Ys (P,12 thn), VP (L, 12 thn), SR (L, 14 thn), .Ks (L, 15 thn), SH (P, 7 thn), IB (L, 25 thn), SA (P, 44 thn), dan MS (P, 30 thn) dirawat di RSPISS, Jakarta, Nk (L, 9 thn) dan Kv (L, 8 thn), dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta., Ev (P, 37 thn), dirawat di RSHS, Bandung, dan RL (L, 40 thn), dirawat di RS Sanglah, Denpasar, Bali. Dari 12 kasus positif tambahan ini, 5 diantaranya mempunyai riwayat perjalanan ke luar negeri ( Malaysia, Singapura, Turki, Jepang dan New Zeland ). Sedangkan berdasarkan kewarganegaraan, dari 12 kasus tambahan : 2 orang, adalah WNA dan 10 orang WN Indonesia. Hal itu disampaikan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes di Jakarta tanggal 12 Juli 2009 mengenai perkembangan kasus influenza A H1N1 di Indonesia. Menurut Prof. Tjandra, data menunjukkan bahwa sebagian dari penyakit ini dapat sembuh sendiri. Bahkan 95% kasus di dunia tidak sampai dibawa ke rumah sakit, dengan angka kematian yang juga relative kecil yaitu 0,4%. Influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita. Masyarakat dihimbau agar tetap waspada dan senantiasa membiasakan pola hidup bersih dan sehat diantaranya mencuci tangan dengan sabun. Melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. Apabila sakit dengan gejala Influenza supaya mengenakan masker dan tidak beraktifitas dan pergi ke dokter apabila sakit flunya tidak membaik, ujar Prof. Tjandra. Dirjen P2PL Depkes menambahkan, untuk mencegah penyebaran flu babi di Indonesia upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan yaitu: penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert Card wajib diisi); penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik; penguatan pelacakan kontak; penguatan surveilans ILI; penguatan laboratorium, komunikasi, edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR). Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Dirilis dari: info@puskom.depkes.go.id

Soal KB, Pilh yang Paling Minimal Efek Sampingnya

MEMILIH alat kontrasepsi sebaiknya mengetahui keuntungan dan kerugian yang mungkin terjadi. Dengan demikian, efek samping dari penggunaan alat kontrsepsi bisa diminimalisasi.

Menurut dr Teddy Rochantoro SpOG, penggunaan kondom memiliki banyak keuntungan, yakni murah, mudah didapat, tidak perlu resep dokter, mudah dipakai sendiri, serta dapat mencegah penularan penyakit kelamin. “Sedangkan efektivitasnya sendiri 88-89 persen,” ujarnya.

Namun demikian, biasanya kerugiannya adalah setiap akan berhubungan harus memakai kondom, selalu harus ada persediaan. Pada penggunaan yang salah, kemungkinan dapat sobek. Pada orang tertentu, mengganggu kenyamanan bersanggama. Tingkat kegagalannya cukup tinggi. Bila lambat pakai, kadang ada yang tidak tahan (alergi) terhadap karetnya.

Namun perlu diingat, pakai kondom baru setiap bersenggama. Pastikan Anda punya persediaan kondom yang cukup. Jika kondom sobek, pertimbangkan kontrasepsi darurat cepat. Jangan pakai pelicin berbahan dasar minyak. Simpan kondom di tempat terlindung dari sinar matahari serta jauhi dari anak-anak dan buang kondom bekas ke tempat sampah.

Sedangkan susuk KB memiliki keuntungan tidak menekan produksi ASI, praktis dan efektif, masa pakai jangka panjang (3 tahun), kesuburan cepat kembali setelah pencabutan dan dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok dengan hormon estrogen. Suntikan KB sendiri keutungannya tidak memengaruhi ASI dan cocok untuk ibu menyusui. Efek sampingnya, di bulan pertama pemakaian terjadi mual, pendarahan berupa bercak di antara masa haid, sakit kepala, dan nyeri payudara.

Sementara itu, keuntungan penggunaan pil KB adalah mudah dan murah, mengurangi rasa sakit ketika haid, dapat mencegah kehamilan di luar rahim, kanker rahim, dan kanker payudara, kesuburan dapat segera kembali, tidak memengaruhi ASI bagi yang menggunakan pil KB tunggal. “Tapi pil KB harus digunakan secara disiplin setiap hari,” pungkasnya.

Masyarakat Dihimbau Dihimbau Waspada Influenza A H1N1

Dirjen Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan (P2PL) Depkes Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K) menghimbau agar masyarakat tetap waspada dan tidak panik dengan merebaknya penyebaran virus Influenza A H1N1 di Indonesia. Hal ini disampaikan dalam jumpa pers tentang perkembangan Influenza A H1N1 di Indonesia, Sabtu (4/72009) di Jakarta.

Prof. Tjandra mengharapkan masyarakat untuk tetap waspada bila dirinya atau orang disekitarnya mendapat gejala flu seperti batuk, pilek dan demam, terlebih lagi jika orang itu baru kembali dari luar negeri atau ada kontak dengan orang yang baru kembali dari luar negeri. Masyarakat juga dihimbau untuk selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat dengan membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun. Melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. Apabila sakit dengan gejala influenza supaya mengenakan masker dan tidak berdekatan dengan anggota keluarga yang lain dan segera menghubungi petugas kesehatan serta menghindari bepergian apabila sedang sakit flu, ujar Prof. Tjandra.

Lebih lanjut dikatakan Prof. Tjandra, hingga hari Sabtu (4/7/2009) terdapat tambahan 12 kasus baru pasien positif H1N1 di Indonesia yang tersebar di Jakarta dan Bali. Kedua belas pasien tersebut terdiri dari 8 orang WNI dan 4 orang WNA yaitu AR (L, 23 TH), RA (L, 10 bln), HR (P, 40 th), IG (L, 33 th), N (P, 34 th), BE (L, 50 th), TD (L, 65 th), F (L, 14 th), RW (L,23 th), BA (L, 22 th), JO (L, 43 th), dan NN. Dengan tambahan kasus baru tersebut jumlah kasus positif Influenza A H1N1 yang tercatat di Indonesia menjadi 20 orang. Prof. Tjandra mengatakan sudah ditemukan penularan H1N1 antar manusia di Indonesia. Hal itu terjadi pada 2 dari 12 orang pasien baru tersebut. Lokasi penularan berada di daerah Jakarta, namun belum diketahui secara pasti oleh siapa dan dimana persisnya penularan tersebut terjadi. Seluruh pasien positif H1N1 tersebut sampai saat ini sehat-sehat saja, tidak ada yang fatal, hanya batuk pilek biasa saja bahkan sebagian ada yang tanpa keluhan sama sekali. Seperti diketahui, 95% pasien di dunia ini tidak masuk rumah sakit sama sekali, ujar Prof. Tjandra. Ditambahkan pula oleh Prof. Tjandra bahwa flu baru H1N1 ini cukup unik karena tingkat fatality-nya yang tinggi justru pada pasien yang berusia muda (20-30 tahun), sementara flu lain pada umumnya akan makin tinggi tingkat fatality-nya pada mereka yang berusia lanjut. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416 – 19 dan 021-52921669, atau melalui alamat e-mail: puskom.depkes@gmail.com dan puskom.publik@yahoo.co.id

Dirilis dari: info@puskom.depkes.go.id

Geli-geli Sehat, Spa Ikan Lenyapkan Kulit Mati

SPA ikan. Sesuai namanya, spa ini dilakukan dengan alat bantu ratusan ikan jenis garra rufa. Ikan itu diberi tugas memakan kulit-kulit tubuh yang mati.

Spa jenis ini kini mudah ditemukan di Jambi. Sejak dua pekan lalu, Lotus Spa Fish membukanya di lantai dasar WTC Batanghari. Peminatnya banyak. Rata-rata 40 orang per hari.

Ikan-ikan ditaruh di dalam akuarium. Orang yang hendak menikmati spa ini cukup duduk sambil menjuntaikan kaki ke dalamnya. Saat itu juga ratusan ikan langsung mengerubungi kaki Anda.

“Seperti digigit-gigit semut,” ungkap Alex, santai, menjawab Jambi Independent saat menikmati spa itu beberapa hari lalu. Pria bermata sipit itu mengaku baru sekali mencoba terapi spa ikan.

“Ternyata kaki jadi ringan. Segar,” ungkap Alex setelah sekitar 15 menit merendamkan kakinya ke dalam akuarium berisi sekitar 500 ekor ikan tersebut.

Usai membasuh, Alex menendang-nendangkan kakinya ke arah tempat kosong. “Enteng. Cobalah,” ujarnya.

Desi (32), pemilik Lotus Spa Fish, mengatakan bahwa spa ikan termasuk baru di Jambi. Khasiatnya cukup banyak. Agar merasa rileks, selain untuk mengangkat kulit-kulit mati dari tubuh.

Ikan garra rufa memang suka memakan kulit-kulit mati di tubuh manusia. Ikan itu juga suka makan cacing beku.

Jambi Independent yang mencoba layanan tersebut langsung merasa geli saat kaki dikerubuti ratusan ikan. Memang sensasi pertama adalah geli itu, terutama di telapak kaki.

Sekitar lima menit kemudian, kaki seolah-olah digigit semut, persis seperti yang dirasakan Alex yang lebih dulu mencoba.

Sekitar sepuluh menit berselang, kaki akan terasa seperti disengat listrik. Tapi dengan voltase ringan. “Cukup 15 menit, kalau sudah terasa disetrum itu sudah bagus,” ungkap seorang pelayan.

Usai terapi, mengeringkan kaki, rasa segar langsung terasa pada bagian kaki yang sudah diobat oleh “si ikan dokter” itu. Tak hanya segar, kaki terlihat lebih bersih dibanding sebelumnya.

Mau coba? Untuk mendapatkan pelayanan spa ikan, Anda perlu merogoh kocek sekitar Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu. Rinciannya, anak-anak Rp 25 ribu per 15 menit, dewasa Rp 30 ribu per 15 menit, dan dewasa Rp 50 ribu per 30 menit.

Pemda Harus Prioritaskan Pembangunan Kesehatan

Masuknya isu kesehatan sebagai janji politik dalam kampanye pemilihan kepala daerah (Pilkada), seharusnya diimplementasikan pemerintah daerah dengan memprioritaskan pembangunan kesehatan. Selain itu di era desentralisasi, dalam menyusun rencana pembangunan kesehatan, Pemerintah Daerah hendaknya tidak menunggu bantuan dari Pusat tetapi harus dilakukan secara berkesinambungan dengan sumber daya dari Pemda dan Pusat secara bersama-sama.

Hal itu disampaikan. Dr. Sjafii Ahmad, MPH, Sekretaris Jenderal Depkes ketika membuka Lokakarya Nasional Pengembangan Kebijakan Pembangunan Kesehatan di Hotel Savoy Homann, Bandung 29 Juni 2009.

Selanjutnya ditegaskan untuk menyusun perencanaan dan kegiatan 5 tahun ke depan yaitu Renjana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 bidang kesehatan harus berbasis kinerja dan disertai besaran rencana anggaran. Oleh karena itu Depkes mengharapkan masukan atau tanggapan daerah karena setiap daerah mempunyai kekhususan dan keunikan tersendiri. Sesjen Depkes mengingatkan pendekatan pembangunan kesehatan harus dilaksanakan dengan melibatkan lintas sektor dan lintas unit dengan menggunakan pendekatan sistemik. Sudah saatnya dilakukan melalui pendekatan dengan penguatan sistem kesehatan yang didukung kebijakan-kebijakan yang diperlukan. Jangan ada program yang jalan sendiri tanpa mengikutkan program lain. Tidak mungkin program penanggulangan TB berhasil kalau hanya meliputi diagnosis dan pengobatan saja, tanpa melibatkan program peningkatan gizi, program kesehatan kerja, program di rumah sakit atau dikaitkan dengan program rumah sehat. Semua program kesehatan harus dapat dikaitkan dalam suatu jaringan program yang saling membantu membentuk suatu Sistem Kesehatan Nasional, ujar Sesjen. Karena itu Sesjen Depkes mengharapkan dalam pertemuan ini akan diketahui keterikatan setiap program, menuju kepada tujuan yang sama yaitu cakupan total bagi semua penduduk/universal coverage. Menurut Sesjen, Pemda harus memahami bahwa tujuan utama dari program adalah mencapai cakupan total/universal coverage terhadap upaya kesehatan. Artinya upaya kesehatan yang terdiri dari pelayanan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif harus mampu terjangkau dan dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia dimanapun dia berada. Juga tidak boleh lagi ada hambatan geografik, perilaku maupun ekonomi. Lokakarya nasional yang berlangsung selama 3 hari ini membahas 18 topik yang dipaparkan pejabat Depkes dan pembicara tamu dari Kantor Menpan, WHO, beberapa Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Ketua Umum Persatuan Rumah Sakit seluruh Indonesia (PERSI), dan lain-lain. Topik yang dibahas antara lain Strategi menuju Pencapaian MDGs melalui Pendekatan Revitalisasi Primary Health Care oleh dr. Budihardja, MPH, Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat; Kebijakan Rujukan dalam Antisipasi Globalisasi dan Jamkesmas oleh dr. Farid Husain, Sp.B, Dirjen Bina Pelayanan Medik; Hasil Riskesdas dalam Kaitannya dengan Isu-isu Daerah oleh Dr. Agus Purwodianto, Sp.F, SH, Kepala Balitbangkes; Strategi Menuju Eradikasi Penyakit Menular dalam Konteks Global oleh Dr. Guntur Gunawan Sesditjen P2PL; Kebijakan Ketersediaan Obat di daerah dan Penggunaan Obat Tradisional oleh Dra. Kustantinah, M.Apt.Sc, Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan; Strategi Menuju Universal Coverage Jaminan Kesehatan oleh dr. Chalik Masulili, Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan. Narasumber lainnya Dr. Ismail Mohamad, MBA, Deputi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Tatalaksana, Kementerian Pendayagunaan Aparatur memaparkan Reformasi Birokrasi dalam Mendukung Tata Kelola Pemerintahan yang Baik, dan dr. Nyoman Kumara Rai, MPH dari WHO SEARO memaparkan Peningkatan Kinerja Sistem Kesehatan. Dr. Untung Suseno, Kepala Pusat Kajian Pembangunan Kesehatan yang juga Ketua Panitia melaporkan maksud penyelenggaraan lokakarya ini adalah dalam rangka menjalin interaksi dan komunikasi antara stakeholder pusat dan daerah dalam rangka mengembangkan pembangunan kesehatan di era desentralisasi. Adapun tujuan khusus lokakarya ini yaitu diindetifikasikannya pembangunan kesehatan di pusat dan daerah, diidentifikasikannya isu strategis tantangan yang dihadapi, upaya terobosan dan potensi yang dimiliki pusat dan daerah dalam pembangunan kesehatan, dan disepakatinya upaya tindak lanjut dalam rangka peningkatan kualitas kebijakan pembangunan kesehatan. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5223002 dan 52960661, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Dirilis dari: info@puskom.depkes.go.id

Menstruasi Berhenti karena KB Tak Berbahaya

TIDAK sedikit wanita yang khawatir saat menstruasi yang tak kunjung datang. Padahal dirinya tidak sedang hamil. Masrina (27), misalnya.

Ibu satu anak itu sudah dua tahun tidak pernah mengalami menstruasi. Hal itu terjadi setelah melakukan KB suntik. “Sudah dua tahun dak men. Kadang takut juga. Takut darah kotor numpuk di perut,” ujarnya.

Menurut dr Teddy Rochantoro SpOG, apa yang dialami Rina sebenarnya hal normal. Masalah penundaan menstruasi pada dasarnya merupakan proses penundaan pematangan sel telur, sehingga sirkulasi menstruasi tertunda atau sel telur tidak pernah matang.

Ia menjelaskan, memang ada sebagian alat kontrasepsi hormon mengandung kombinasi estrogen dan progestin, bekerja dengan cara mencegah pematangan dan pelepasan sel telur setiap bulan. Sel telur pun selalu muda dan tidak siap dibuahi. “Inilah yang menyebabkan penundaan pelepasan sel telur, sehingga jika sel telur selalu muda, tidak mungkin ada menstruasi,” ujarnya di Fakultas Kedokteran Unja.

Alat KB yang biasanya menyebabkan hal ini adalah pil atau suntik. “Masalah dampak negatifnya, semua sudah melalui riset yang panjang. Jadi dampaknya sangat kecil, sudah disesuaikan dengan kebutuhan,” jelas Teddy.

Ditambahkan, ada sejumlah pilihan metode hormon untuk menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan yang berbeda, bisa pil atau suntik. “Hal tersebut kadang digunakan oleh atlet yang mau bertanding atau pasangan pengantin baru yang takut tertanggu oleh fase menstruasi,” contohnya.

Dengan variasi dalam kombinasi dosis, cara pemberian yang berbeda, penggunaan jenis progestin yang berbeda, dapat memberikan manfaat tambahan di luar kontrasepsi, termasuk menunda proses menstruasi.

Mengenai efek samping penyetopan siklus menstruasi dengan alat kontrasepsi hormon, Teddy mengatakan tidak masalah. Memang beberapa wanita sering mengalami efek berupa kepala pusing dan lemas. “Ini tidak berbahaya,” ujarnya. "Tak ada obat yang tidak memberikan efek samping.”

Umumnya keluhan itu lebih bersifat subjektif. “Jadi tiap-tiap orang bisa berbeda," ucapnya.

Memang sebelumnya, pada dekade 60-an, para wanita sempat khawatir pada penggunaan KB dengan cara suntik dan pil. Hal itu karena adanya penelitian yang menyebutkan bahwa salah satu alat kotrasepsi hormonal, yakni pil KB, bisa menyebabkan kanker indung telur. “Namun setelah diteliti, ternyata itu disebabkan dosis hormon estrogen yang kebanyakan,” ujarnya.

Pada tahun 80-an, pil KB dapat memacu kanker, sebab dosis esterogennya jauh lebih kecil. Namun sekarang sudah melalui penelitian intensif. “Jadi sekarang sudah aman,” tegasnya.