Perawatan Gigi Susu Tentukan Bentuk Gigi Dewasa

ADA beberapa faktor membuat seseorang tampak indah dan menarik. Salah satunya senyum yang menawan dengan susunan gigi geligi rapi. Sayangnya, tidak semua orang memiliki susunan gigi geligi yang baik dan teratur. Lalu apa yang menyebabkan gigi tidak teratur?

Menurut, Drg. P. Sitanggang, M.Kes, secara garis besar penyebab gigi tidak teratur adalah penyebab langsung dan tidak langsung. Adapun, penyebab langsungnya, anatara lain, Gigi susu yang tanggal sebelum waktunya (premature loss).

Gigi susu akan goyang akibat tekanan dari gigi tetap dan lama-kelamaan akan tanggal sesuai dengan waktu pergantiannya. Proses ini berlangsung normal secara fisiologis. Tetapi ada gigi susu yang tanggal sebelum waktunya karena beberapa hal, misalnya karena karies gigi atau trauma (benturan/jatuh).

“Hal ini menyebabkan gigi tetapnya kehilangan arah/petunjuk untuk tubuh dan terjadi penyempitan ruangan. Akibatnya gigi tetap akan tumbuh diluar lengkung gigi,”ujar Sitanggang.

Penyebab langsung berikutnya, yakni, karena gigi yang tidak tumbuh/tidak ada (missing teeth). Karena berbagai faktor ternyata tidak semua orang memiliki jumlah gigi yang normal, adakalanya gigi seseorang tidak tumbuh.

Gigi geligi yang biasa tidak tumbuh pada rahang atas adalah gigi Insisivus (seri) pertama dan kedua, premolar (geraham kecil) kedua dan molar (geraham besar) ketiga.

Sedangkan di rahang bawah gigi premolar kedua dan molar ketiga. “Apabila seseorang mengalami kelainan ini, maka pada lengkung gigi dan rongga mulutnya terdapat ruangan kosong sehingga tampak celah antara gigi (diastema), atau bisa juga dikarenakan, gigi yang berlebih (supenumerary teeth),”jelasnya.

Kelainan ini merupakan kebalikan dari gigi yang tidak tumbuh. Gigi berlebih ditunjukan dengan pertumbuhan gigi lebih banyak jumlahnya dibandingkan jumlah normalnya. Apabila gigi berlebih tersebut timbul dalam lengkung gigi, akan menyebabkan gigi berjejal (crowding),”jelas Sitanggang.

Sitanggang, menyebutkan, bisa juga dikarenakan tanggalnya gigi tetap, atau gigi tetap terpaksa dicabut bila berlubang besar dan tidak mungkin lagi dilakukan penambalan, sehingga terdapat ruang kosong pada lengkung gigi dan gigi tampak renggang (diastema).

Selain itu,bisa juga dikarenakan gigi susu tidak tanggal walaupun gigi tetap penggantinya telah tumbuh (persistens). Kelainan gigi ini merupakan kebalikan dari kelainan premature loss. “Dimana gigi tetap muncul diluar lengkung rahang dan tampak berjejal,”sebut Sitanggang lagi.

Adakalanya, dikarenakan bentuk gigi tetap tidak normal. Karena beberapa hal, seseorang bisa memiliki satu atau lebih gigi dengan bentuk tidak normal. Misalnya gigi seri kedua rahang atas yang bentuknya konus/pasak, sehingga lebih kecil dibandingkan yang lainnya.

Akibatnya terdapat ruang kosong antara gigi dan gigi tampak renggang. Selain itum, kebiasaan-kebiasaan buruk. Anak-anak yang sering melakukan kebiasaan buruk berulang-ulang dapat berakibat kelainan pada gigi dan jaringan pendukungnya.

Sedangkan, penyebab tidak langsung dari susunan gigi tidak teratur, yakni, segala hal yang menyebabkan terjadinya gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan tubuh, secara tidak langsung juga berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan rahang dan gigi geligi, seperti, faktor keturunan (genetika).

Seorang anak yang mengalami kelainan posisi gigi bisa diturunkan dari kedua orang tuanya. Contohnya orang tua dengan kelainan skelatal (tulang rahang) kelas III Angle (cakil) kemungkinan akan mempunyai anak dengan kondisi gigi yang serupa.

Faktor keturunan itu tidak bisa dicegah karena setiap orang tua pasti akan mewariskan gen-gen (sifat menurun) kepada anak-anaknya, faktor gangguan pada janin (kongenital).

Berikan Contoh dari Orangtua

KETIDAKTERATURAN gigi dapat dicegah saat usia anak prasekolah dan sekolah dasar, yakni pada usia 3-11 tahun.

Menurut drg Polisman Sitanggang, ada tiga langkah yang perlu dilakukan dalam mencegah gigi tidak teratur, yaitu pendekatan psikologis. Secara psikologis anak-anak belum peduli dengan keberhasilan dan kesehatan giginya. Karena itu, peran orangtualah untuk mengajarkan pada anak tentang perlunya menjaga kebersihan dan kesehatan gigi.

Memberi contoh dan membiasakan menyikat gigi setelah makan dan sebelum tidur pada si anak, misalnya. Setelah si anak secara psikologis dapat menerima perawatan, butuh konsultasi ke dokter gigi untuk diambil tindakan bila dipandang perlu. “Seperti mencabut gigi susu yang belum tanggal sedangkan gigi tetapnya sudah tumbuh,” ujarnya.

Kemudian penambalan gigi susu yang berlubang agar tidak tanggal sebelum waktunya. Pembuatan alat (space maintainer) untuk mempertahankan posisi ruangan gigi yang telah tanggal sebelum waktunya serta mencegah dan menghilangkan kebiasaan buruk.

Kebiasaan buruk yang sering dilakukan oleh anak-anak seperti mengisap jari, bernapas melalui mulut, dan proses penelanan yang salah. Karena itu, orangtua harus mengetahui kebiasaan buruk si anak dan mencegahnya sejak dini. “Bila anak sudah melakukan kebiasaan buruk, orangtua segera berkonsultasi ke dokter gigi untuk menghilangkan kebiasaan buruk tersebut sebelum terjadi kelainan gigi,” tegas drg Sitanggang.

Untuk Cegah Flu Babi : Penumpang Wajib Kenakan Masker

Untuk mencegah penularan Influenza A H1N1 (flu babi) di Indonesia, Pemerintah mewajibkan semua penumpang dari negara terjangkit mengenakan masker setibanya di terminal kedatangan luar negeri. Mereka juga diwajibkan melewati thermo scanner (alat pemindai suhu tubuh) sebelum keluar dari bandara. ”Kalau sebelumnya masih banyak penumpang mem-by pass dari thermo scanner, sekarang tidak boleh lagi”, ujar Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Ir. Aburizal Bakrie yang didampingi Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP (K) saat jumpa pers usai memimpin Rakor Kesra di Jakarta tanggal 29 Juni 2009.

Kebijakan tersebut diambil dalam Rapat Koordinasi bidang Kesejahteraan Rakyat yang dipimpin Menko Kesra Ir. Aburizal Bakrie dan dihadiri Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K), Menteri Perhubungan, Ir. Jusman Syafii Djamal, Wakil dari Menlu, Menkeu diwakili Dirjen Anggaran, Depdagri diwakili Dirjen Pemerintahan Umum, Depdiknas diwakili Dirjen Dikti, Ketua Pelaksana Harian Komnas Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (FBPI) Dr. Bayu Krisnamurthi, Dirut PT Angkasa Pura I dan II, serta Kepala Administratur Bandara Soekarno Hatta Cengkareng.

Menko Kesra menambahkan, Pemerintah berupaya mencegah terjadinya penularan influenza A H1N1 antar manusia di Indonesia setelah ditemukannya 8 orang positif karena tertular dari luar negeri. ”Kami memutuskan untuk memonitor, melaporkan dan mengkoordinasi penanggulangan influenza A H1N1 dan mendukung proses penanganan yang dilakukan Menkes dan jajarannya seperti pembentukan Posko Depkes untuk menangani masalah ini”, ujar Aburizal Bakrie. Menurut Menko Kesra, dalam Rakor juga membahas persiapan-persiapan yang diperlukan untuk menghadapi beberapa event internasional yang akan diselenggarakan di Indonesia pada bulan Agustus 2009 seperti Konferensi Internasional AIDS di Bali dan Sail Bunaken di Manado. Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari yang diberi kesempatan menjelaskan penanganan kasus flu babi di Indonesia oleh Menko Kesra menyatakan, saat ini jumlah kasus positif Influenza A H1N1 berjumlah 8 orang. Mereka terdiri dari 4 orang warga negara Indonesia, 3 orang warga negara Australia dan 1 orang warga negara Inggris yang berdomisili di Australia. Kesemuanya tertular dari Australia dan Singapura, jadi merupakan kasus impor. Dari 8 orang tersebut, 1 orang sudah sembuh dan boleh pulang, sedang 7 orang lainnya masih dirawat di RS yakni 4 orang di RS Penyakit Infeksi Sulianti Saroso Jakarta, dan 3 orang WN Australia dirawat di RS Sanglah Denpasar, Bali. “Berkat upaya-upaya yang dilakukan Depkes dan jajaran kesehatan di seluruh Indonesia serta kerja sama dengan lintas sektor terkait, alhamdulillah belum terjadi penularan antar manusia di Indonesia”, ujar Dr. Siti Fadilah Supari. Untuk mencegah penularan virus yang kemungkinan terbawa para pendatang dari negara terjangkit mereka diwajibkan mengenakan masker sebelum keluar dari bandara. Masker akan disediakan oleh pemerintah dan harus dikenakan selama 3 hari, sesuai dengan masa inkubasi penyakit ini yaitu 3 – 7 hari, ujar Menkes. Sejak WHO menetapkan flu babi sebagai public health emergency international concern (PHEIC) tanggal 25 April 2008, Depkes telah menetapkan 6 langkah antisipasi yaitu : 1. Penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan yang dilakukan dengan pemasangan thermo scanner, pemberian health alert card, penyiapan alat pelindung diri (APD) dan lain-lain. 2. Logistik terutama penyediaan obat tamiflu dan pendistribusian sampai ke Puskesmas. 3. Penyiapan 100 rumah sakit rujukan, obat, APD, keteresdiaan ruang isolasi dll. 4. Penguatan surveilans epidemiologi yang dilakukan dengan mengintensifkan surveilans ILI di 20 Puskesmas, surveilans SARI di 15 RS sentinel dll. 5. Penguatan laboratorium dengan mengintensifkan laboratorium regional dan pemenuhan reagensia. 6. Komunikasi, informasi dan edukasi yang dilakukan dengan penyebarluasan informasi kepada masyarakat luas melalui berbagai saluran komunikasi yang ada. Menkes menegaskan, Influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita. Saat ini sebagian besar penyakit adalah ringan dan sembuh dengan baik. Menkes menghimbau masyarakat untuk senantiasa mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, dan mengeringkan dengan tisue atau lap bersih. Melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar. Apabila sakit dengan gejala Influenza supaya mengenakan masker dan tidak berdekatan dengan anggota keluarga yang lain dan segera menghubungi petugas kesehatan. Menghindari bepergian apabila sakit dan berhati-hati bila berkunjung ke luar negeri. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.

Dirilis dari: info@puskom.depkes.go.id

Organ Vagina Butuh Perawatan Khusus

SELAIN tubuh bagian luar, organ vagina juga tidak kalah penting dirawat. Ada cara khusus yang perlu dilakukan untuk mencegah masuknya kuman.

Menurut dr Ida Yuliati, cara perawatan organ intim wanita yang terbaik ialah membasuhnya dengan air bersih. Satu hal yang harus diperhatikan dalam membasuh daerah kewanitaan, terutama setelah buang air besar (BAB): “Cara membasuhnya dari arah depan ke belakang (dari vagina ke arah anus), bukan sebaliknya,” ujarnya.

Mengapa demikian? Bila terbalik membasuh, kuman dari daerah anus akan terbawa ke depan dan dapat masuk ke dalam vagina.

Soal penggunaan sabun, dr Ida juga menyarankan agar menggunakan sabun lunak (dengan PH 3,5), misalnya sabun bayi yang biasanya ber-PH netral. Ia juga menyarankan menghindari pemakaian berbagai jenis pembersih vagina, sebab di dalam vagina sebenarnya ada mekanisme alami yang diperankan oleh bakteri normal.

Kemudian bila membersihkan daerah kewanitaan dengan sabun dan sejenisnya, hanya di bagian luar. Gunakan sabun bayi karena biasanya memiliki PH netral. Setelah memakai sabun, hendaklah dibasuh dengan air sampai bersih (sampai tidak ada lagi sisa sabun yang tertinggal). Bila masih ada sisa sabun yang tertinggal, dapat menimbulkan penyakit. “Setelah dibasuh, harus dikeringkan dengan handuk atau tisu, tetapi jangan digosok-gosok,” jelasnya.

Hindari juga pemakaian berbagai jenis pembersih vagina, sebab di dalam vagina sebenarnya telah ada suatu mekanisme alami untuk mempertahankan keseimbangan keasaman vagina. Mekanisme itu diperankan oleh bakteri normal yang secara alami terdapat dalam vagina. “Apabila keseimbangan tersebut terganggu, bakteri baik dalam vagina akan mati dan malah akan berkembang bakteri jahat yang dapat menimbulkan penyakit,” sebutnya.

Ida juga menekankan jangan menggunakan bedak untuk daerah kewanitaan, termasuk juga pada bayi, terutama bayi perempuan. Menurut penelitian terbaru, pemakaian bedak pada daerah tersebut, terutama pada bayi, dapat berdampak buruk. Mengapa demikian? Bedak tersebut dapat masuk ke dalam vagina yang di kemudian hari dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit seperti tumor (granuloma, dsb).

Pemakaian pantyliner setiap hari secara terus-menerus juga tidak dianjurkan. Pantyliner sebaiknya hanya digunakan saat keputihan banyak, dan sebaiknya jangan memilih pantyliner yang berparfum karena dapat menimbulkan iritasi kulit. Begitu juga pemilihan pembalut wanita, sebaiknya pilih pembalut yang tidak mengandung gel. Gel dalam pembalut kebanyakan dapat menyebabkan iritasi dan menyebabkan timbulnya rasa gatal.

Selain itu, soal pemakaian celana, sebaiknya tidak menggunakan yang ketat, karena bisa menyebabkan kulit sulit bernapas.

Jangan Anggap Remeh, Eksim di Payudara

Bagi ibu menyusui, luka bekas gigitan anak pada payudara mungkin biasa. Apalagi terkadang ada yang sampai membentuk eksim alias koreng.

Tapi gejala itu sebaiknya tidak dianggap remeh. Apalagi jika tak kunjung sembuh. Koreng pada puting bisa jadi merupakan gejala kanker payudara yang dikenal dengan penyakit paget.

Menurut dr Hj Ida Yuliati MHKes, penyakit paget pada puting susu adalah sejenis kanker payudara yang pertama kali muncul sebagai luka terbuka pada puting susu yang berkeropeng dan bersisik. “Kadang juga ada cairan yang keluar dari puting susu,” ujarnya kemarin.

Paget memang jarang terjadi dan hanya berkisar 1 persen dari semua kanker payudara. Biasanya terjadi pada wanita berusia 50 tahun.

Mengenai penyebab, Ida mengatakan, hingga saat ini belum diketahui pasti. Penyakit itu umumnya pertama kali tumbuh di dalam saluran air susu pada puting susu.

Ia menjelaskan, gejala dari paget adalah kulit pada puting susu dan areola (daerah berwarna cokelat di sekelilling puting susu) tampak merah dan meradang serta membentuk keropeng dan borok. Kadang juga mengalami perdarahan.

“Kondisi luka terbuka pada puting susu tidak sembuh-sembuh dan disertai gatal-gatal dan perih, biasanya unilateral atau hanya satu puting susu yang terkena,” jelas Ida. Kadang disertai benjolan pada payudara, namun kadang tidak.

Secara umum, penyakit paget pada puting susu menyerupai eksim, dermatitis, atau psoriasis. Oleh karena itu, agak sulit membedakan penyakit paget dari beberapa penyakit eksim,, dermatitis atau psoriasis tersebut.

Jika muncul eksim di daerah payudara, sebaiknya tidak malu segera memeriksakannya. Jika memang dicurigai gejala penyakit paget, biasanya akan dilakukan biopsi pada kulit dan jaringan payudara di bawahnya, sitologi kerokan kulit, serta mammogram.

Lakukan Perawatan Gigi secara Benar

PERAWATAN gigi secara rutin dan teliti merupakan salah satu cara untuk mencegah masalah gigi, termasuk gejala gusi berdarah. “Yang penting rajin menggosok gigi minimal dua kali sehari secara baik dan benar,” ujar drg Polisman Sitangggang MKes.

Jika perlu, rutin membersihkan karang gigi, kemudian memoles permukaan gigi sampai licin. Termasuk karang gigi yang melekat di bawah gusi.

Tidak hanya itu, selalu mengonsumsi makanan yang bergizi, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan, juga banyak membantu. Nutrisi dalam sayuran dan buah biasanya banyak mengandung vitamin seperti vitamin C yang bisa membantu mencegah gusi berdarah.

Jika gusi berdarah sudah terjadi, untuk pengobatan sesaat, segera periksakan diri ke dokter gigi untuk memastikan kondisi kesehatan mulut. “Sehingga dokter akan memberikan terapi obat dan tindakan memperbaiki kondisi gusi,” sebutnya.

Kemudian ia juga menyampaikan cara menyikat gigi yang benar. Pertama, pilihlah bulu sikat yang halus dan ujung kepala sikat gigi yang kecil agar dapat menjangkau ke bagian gigi paling belakang. Gigi yang menghadap pipi disarankan disikat dengan gerakan memutar dari atas ke bawah, diawali dengan bulu sikat ditempatkan pada permukaan gusi dan mengarah ke akar gigi.

Gerakan menyikat sebaiknya jangan horizontal, dari kiri ke kanan, karena ruang di sela gigi tidak terjangkau oleh bulu sikat. “Selain itu, gerakan horizontal yang disertai tekanan yang berlebihan dapat merusak perlekatan gusi dengan gigi sehingga menyebabkan resesi gusi,” paparnya.

Jangan Anggap Remeh Gusi Berdarah

ANDA pernah mengalami gusi berdarah saat menggosok gigi? Itu salah satu gejala peradangan gusi atau gingivitis. Gingivitis biasanya ditandai gusi bengkak, warnanya merah terang, dan mudah berdarah dengan sentuhan ringan.

Menurut drg P Sitanggang MKes, gingivitis dapat disebabkan beberapa hal, antara lain kebersihan mulut yang buruk, penumpukan karang gigi (kalkulus/tartar), dan efek samping obat-obatan tertentu yang diminum secara rutin. Penyebab lainnya adalah kekurangan vitamin C.

“Jika sisa-sisa makanan tidak dibersihkan tuntas, menjadi tempat pertumbuhan bakteri. Akibatnya, terjadi infeksi pada gusi dan tulang yang menopang gigi,” ujarnya.

Sitanggang menyebutkan, ada beberapa gejala gingivitis (periodontal disease) seperti jarak antara gigi semakin renggang, dan gusi menyusut sehingga pangkal gigi semakin terlihat. Adakalanya gigi tanggal sebelum waktunya, atau bisa juga timbul rasa nyeri pada gusi. “Bau mulut yang muncul juga gejala dari peradangan gusi,” tambahnya.

Secara umum, kata Sitanggang, peradangan pada gusi dimulai dari munculnya karang gigi atau plak yang terbentuk di sekitar gusi. Karang gigi itu disebabkan saliva atau air ludah agak kental dan juga disebabkan kurang perhatian terhadap kebersihan gigi dan mulut.

Selanjutnya akan terjadi kerusakan pada jaringan gigi. Pada tahap ini, tulang penyangga gigi dan jaringan yang menyangga gigi di tempat yang terinfeksi tersebut sudah mengalami kerusakan. “Itulah yang menyebabkan jarak antara gigi semakin renggang dan gusi menyusut,” tukasnya.

Jika itu terjadi, gusi mulai membentuk kantong, yang akan menjadi perangkap bagi sisa-sisa makanan yang menempel dan menjadi plak. Tahap yang paling parah ketika terjadi advanced periodontitis.

Itu merupakan tahap yang paling parah dari penyakit gusi. Pada tahap tersebut, jaringan dan tulang yang menyangga gigi telah hancur. Hal itu bisa menyebabkan gigi goyang bahkan tanggal. “Kondisi itu menyebabkan keompongan pada usia muda atau sebelum waktunya,” kata Sitanggang.

Hal tersebut tentu mengganggu kenyamanan saat mengunyah. Apalagi jika tak dilakukan perawatan rutin terhadap gigi. Pada akhirnya gigi harus dicabut, karena sudah rusak dan keropos.

Ikuti Latihan Meditasi dan Hipnoterapi

JAMBI - Meditasi adalah salah satu cara melatih diri untuk mendapatkan jiwa yang tenang dan lebih sabar. Selain itu, meditasi juga merupakan cara yang bisa dilakukan untuk membentuk tubuh dan jiwa yang sehat. Hal itulah yang menjadi salah satu agenda penting dalam pelatihan Pabajja yang digelar Vihara Sakyakirti Kota Jambi.

Menurut Wakil Ketua III Generasi Muda Buddhis Sakyakirti (GBSJ) Heri, meditasi merupakan salah satu kegiatan penting yang harus diajarkan dan dilatih dalam kegiatan Pabajja. Selain itu, kegiatan tentu bermanfaat baik tidak hanya bagi mental sang anak, tetapi juga bagi kesehatan mereka. Itu karena meditasi bisa menyembuhkan penyakit psikosomatik (penyakit yang bersumber dari batin, tapi gejalanya timbul pada jasmani) dapat disembuhkan.

Dari pantauan Jambi Independent, kegiatan para upasaka dan upasika dimulai dengan senam pagi. Senam untuk menyegarkan dan menyehatkan tubuh. Olahraga yang dimulai pagi hari tentu berdampak baik bagi tubuh. Acara dilanjutkan latihan meditasi. Setiap anak harus duduk di satu bantal yang disediakan. Dengan mendengarkan instruksi dari biku yang merupakan pengisi materi, mereka mulai berlatih.

Setiap anak diharuskan duduk bersila dengan tangan di atas paha. Tidak lupa mereka memejamkan mata. Suasana dibuat sehening mungkin sehingga setiap anak bisa mencapai konsentrasi penuh. Mencapai konsentrasi penuh bukan hal mudah. Setiap anak harus mengikuti setiap petunjuk dan instruksi dari pelatih.

Itu pemandangan yang menarik. Puluhan anak berkumpul, menggunakan jubah, dan berkepala plontos. Meskipun usia mereka masih sangat muda, semangat mereka untuk berlatih menjalani kehidupan biku sangat besar. Itu tentu menjadi salah satu cerminan bagi umat Buddhis yang lebih dewasa untuk becermin pada semangat anak-anak. “Mereka terlihat sangat menikmati kegiatan ini. Meskipun harus berpisah sementara dari orangtua, mereka tidak mengalami kesulitan sama sekali. Itu adalah salah satu bentuk kemandirian mereka yang harus terus dilatih sehingga saat mereka dewasa bisa bersikap lebih mandiri,” beber Heri.

Selain latihan meditasi, para peserta Pabajja juga berlatih relaksasi total. Caranya, semua peserta dipersilakan tidur. Sebelum tidur, mereka disuruh mendengarkan beberapa nasihat dan petunjuk sehingga tidur yang mereka lakukan bisa sangat bermanfaat dan benar-benar merasakan tidur yang nyaman dan sehat.

Acara dilanjutkan dengan menonton bersama. Film yang ditonton adalah film yang mengajarkan ajaran Buddha, yang dirangkai menjadi satu cerita menarik. “Dari film yang ditonton, mereka bisa belajar mengambil pesan dari cerita tersebut. Selain itu, apa yang dilihat dan didengar dari film tentu bisa membawa manfaat tersendiri bagi mereka,” bebernya.

Rangkaian pelatihan Pabajja juga akan ditutup dengan acara Pindapatta. Pindapatta adalah salah satu tradisi yang dilakukan para biku. Saat ini umat diberi kesempatan berdana kepada biku dengan cara memberikan persembahan berupa kebutuhan sehari-hari. Biku berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya sambil membawa satu mangkok sebagai tempat meletakkan persembahan makanan.

Hal sama juga akan dilakukan para peserta Pabajja. Menurut Heri, rencananya pada Minggu (28/6), mereka akan melakukan Pindapatta yang akan didampingi para biku Sangha. Para peserta yang terdiri atas upasaka dan upasika itu akan berkeliling dan menerima dana dari umat sekitar Vihara. Dari kegiatan itu, para peserta Pabajja akan benar-benar merasakan dan berlatih mengikuti cara hidup seorang biku. “Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mempraktikkannya sehingga benar-benar bisa merasakan cara hidup seorang biku yang harus mengikuti delapan sila yang merupakan dasar ajaran Buddha,” ujarnya.

Menkes Resmikan Pos Kesehatan Pesantren

Menteri Kesehatan RI Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) pada hari Kamis, 4 Juni 2009 meresmikan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) di Pondok Pesantren Nurul Huda, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.

Pada kesempatan itu Menkes juga secara simbolis meresmikan 8 Poskestren lainnya yang tersebar di berbagai Pondok Pesantren (Ponpes) binaan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), yaitu Ponpes Al-Mutawwa, Serang Banten, Ponpes Nurul Aini Cilandak, Ponpes Nurul Iman Bogor, Ponpes Baitul Amal Bandung, Ponpes Al-Kautsar Cirebon, Ponpes Al-Hidayah Banjar Baru, Kalsel, Ponpes Nurul Islam Samarinda, Kaltim, serta Ponpes Raudhatul Jannah, Sulsel.

Dalam sambutannya Menkes mengatakan Poskestren didirikan sebagai salah satu dari grand strategy Departemen Kesehatan untuk pemberdayaan masyarakat dalam hidup bersih dan sehat. Poskestren ini bertujuan untuk menjaga kesehatan siswa, pengajar dan pengelola pesantren. Disamping itu juga diharapkan agar pesantren mempunyai peran yang penting didalam menjaga kesehatan masyarakat diwilayahnya masing-masing. Menkes berharap agar Poskestren bisa melayani semua santri/santriwati dan masyarakat sekitarnya tanpa membedakan apapun juga, karena kesehatan adalah hal yang sangat universal dan mendasar bagi kemanusiaan. Maka didalam melayani orang yang sakit dan orang yang susah jangan dibeda-bedakan. Menkes mengharapkan agar jangan sampai ada lagi terdengar berita pasien miskin ditolak untuk berobat oleh pihak rumah sakit dengan alasan apapun juga, terlebih lagi oleh rumah sakit pemerintah. Menkes juga berpesan kepada aparat pemerintah Lampung, khususnya Bupati Lampung Selatan agar menjaga dengan baik program Jamkesmas yang diluncurkan oleh Depkes. Serta terus mendorong untuk terwujudnya Jamkesmasda di Lampung karena kesehatan merupakan modal yang sangat penting untuk mewujudkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Lebih lanjut dikatakan Menkes bahwa tahun 2009 ini Depkes telah menyetujui untuk mendirikan 30 Poskestren lagi dari total 63 Poskestren yang diajukan oleh LDII, disamping 19 Poskestren yang sudah disetujui sebelumnya. Hal ini menunjukkan komitmen dan perhatian pemerintah, dalam hal ini melalui Depkes untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada rakyat, khususnya bagi mereka yang kurang mampu atau berada di daerah yang minim fasilitas kesehatannya. Hadir pula dalam acara tersebut adalah perwakilan dari Gubernur Lampung, Bupati Lampung Selatan, perwakilan dari DPRD Lampung, perwakilan dari Kapuskabangkes Depkes, Kepala Dinas Kesehatan Lampung, Ketua Umum DPP LDII, serta para ulama dan tokoh masyarakat lainnya. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau e-mail puskom.depkes@gmail.com dan puskom.publik@yahoo.co.id.

Dirilis dari: info@puskom.depkes.go.id