Kenali Gejala Awal Keguguran

Setiap pasangan suami-istri pasti menginginkan memiliki buah hati. Apalagi pasangan yang baru menikah. Hal itu juga dirasakan Maria (25). Setelah tiga bulan menikah, ia dinyatakan positif hamil.

Namun kebahagiaan itu hanya sesaat. Baru dua bulan usia kehamilan, ia mengalami pendarahan dan akhirnya harus kehilangan janinnya. “Kata dokter karena kecapaian,” ujarnya.

Apa yang dialami Maria juga sering dialami pasangan suami-istri lainnya. Keguguran menjadi ancaman bagi wanita hamil. Apa sebenarnya yang menyebabkan?

Menurut dr Teddy Rochantoro SpOG, penyebab keguguran bervariasi dan biasanya tidak dapat diidentifikasi khusus. Umumnya keguguran selama trimester pertama disebabkan kelainan kromosom. “Kelainan bisa karena adanya permasalahan pada sel telur atau pada sperma,” katanya di Rumah Sakit Theresia.

Penyebab lain bisa permasalahan hormonal, infeksi, atau adanya masalah pada kesehatan ibu hamil. Ada juga yang disebabkan gaya hidup (misalnya merokok, konsumsi obat, kurang gizi, konsumsi kafein berlebihan, dan paparan radiasi atau zat beracun). “Atau proses menempelnya sel telur dalam rahim yang tidak sempurna atau tidak berlangsung dengan benar,” lanjut Teddy.

Kemudian faktor usia juga memengaruhi. Termasuk trauma yang dialami ibu hamil. “Ditambah beberapa faktor yang belum terbukti secara ilmiah, namun sering dikaitkan sebaagi penyebab keguguran, yakni aktivitas seksual saat hamil, bekerja (kecuali bekerja di lingkungan yang berbahaya), atau olahraga ringan,” tandasnya.

Secara umum, setiap ibu hamil memiliki kemungkinan mengalami keguguran. Ibu hamil akan mengalami keguguran berkisar 10–20 persen, dan pada banyak kasus rata-rata keguguran pada ibu hamil mencapai 15–20 persen.

Dikatakan, semakin tua usia ibu hamil, risiko dan kemungkinan terjadi keguguran semakin besar. Ibu hamil sampai usia 35 tahun memiliki kemungkinan keguguran sekitar 15 persen, kemudian ibu hamil usia 35–45 tahun memiliki risiko sekitar 20–35 persen, dan ibu hamil usia di atas 45 tahun memiliki risiko sampai 50 persen. “Sedangkan ibu hamil yang pernah mengalami keguguran juga akan memiliki risiko keguguran 25 persen terjadi keguguran kembali pada kehamilan selanjutnya, sedikit lebih tinggi daripada yang belum pernah mengalami keguguran,” kata Teddy. Karena itu, untuk kasus ibu hamil yang sudah pernah mengalami keguguran, perlu penanganan khusus.

Lalu apa saja gejala awal yang bisa menyebabkan keguguran? Teddy mengatakan, gejala bisa dalam bentuk sakit perut di bagian bawah, nyeri/pegal/sakit punggung sedang sampai parah, lebih parah dari nyeri saat menstruasi normal, berat badan menyusut, keluar lendir putih-pink, kontraksi yang menyakitkan yang terjadi setiap 5–20 menit.

Juga keluar bercak darah merah terang atau kecokelatan. 20-30 persen dari kehamilan biasanya mengalami keluar bercak darah pada awal kehamilan. “Tapi biasanya 50 persen akan kembali normal dan dapat melanjutkan kehamilan. Selanjutnya keluar selaput atau semacam jaringan dari vagina,” tandasnya.

Teddy juga menjelaskan, penting mengetahui jenis-jenis keguguran agar dapat membedakan dan menemukan tindakan yang tepat. Di antara keguguran, ancaman keguguran (threatened miscariage): pendarahan yang disertai tegang pada punggung bagian bawah. Mulut rahim tetap tertutup. Pendarahan dapat disebabkan menempelnya kantung dan calon janin pada dinding rahim.

Selanjutnya ada keguguran tak sempurna (incomplete miscarriage): perut dan punggung sakit disertai pendarahan dengan pembukaan mulut rahim.

Proses keguguran itu dapat terjadi dengan pembukaan leher rahim atau gugur dan keluarnya sebagian jaringan. Pendarahan dan sakit punggung akan terus terjadi selama keguguran tersebut belum terjadi secara sempurna.

Ada juga keguguran sempurna (complete miscarriage): keguguran sempurna terjadi bila seluruh embrio hasil pembuahan keluar dari rahim melalui vagina. Pendarahan, nyeri, dan tegang punggung berkurang drastis.

0 komentar:

Poskan Komentar